Facebook RSS Feed
Dunia itu dilaknat, dan dilaknat apa yang ada padanya. kecuali dzikir kepada Allah, orang-orang yang berbuat baik, atau orang 'alim(berilmu) dan orang-orang yang menuntut ilmu. (Al-Hadits)
~Islamic Media~
Bersama Dakwah
The Deen Show
Republika
Info Palestina

Sobat berkunjung. insya allah sayapun berkunjung

Kamis, 25 Juni 2015

tttttttt

Read more...

Selasa, 24 Maret 2015

minal masjidi ilaal masjidi

     Temanku... Aku ingin berkisah. kisah ini baru sekali kudengar, tapi ketakjuban membuatku tak mampu melupakan kisah itu. Tentang seorang yang berpura2 menajdi pengemis yang menyelipkan pena dan lembar2 kertas di bajunya lalu hampir tiap hari datang kerumah Imam Ahmad yang kala itu menjadi tahanan rumah dan dilarang mengajar murid2nya. Terlihat sebagai seorang pengemis rupanya dia belajar hadits setiap berkunjung ke rumah imam ahmad. lalu menjadilah ia seorang yang paling baik ingatannya terhadap hadits-hadits yang diajarkan imam ahmad.

     Teman.... kisah lain yang menggelitik hati juga sulit kumengerti. tentang para pencari ilmu yang lupa membawa pena dan bukunya. duduk di dalam mesjid dengan beragam pikiran menggelayuti benak. Ada juga yang sesekali asyik bercanda dengan teman sebelah. Ada juga yang memegang smartphone dengan ibu jari yang teramat fasih bermain di layar sentuhnya. kita lupa mesjid mempunyai hak tersendiri. Mesjid dibangun untuk shalat, untuk berdzikir, untuk mengajar dan belajar ilmu syar'i. Kita lupa membawa pena dan buku tapi tidak lupa membawa Hp supercanggih kita. bahkan tidak ingat kisah ibnu mubarak ketika ditanya kapan akan berhenti belajar, beliau menjawab"sampai aku dengan pena ini memasuki liang kubur". Kita malu. Sungguh kita sangat ingin merasa malu.
     Teman... dengan satu ilmu kita sering merasa puas. Dengan satu guru kadang kita merasa cukup. bahkan tak jarang kita belajar otodidak dari buku lalu melupakan orang-orang 'alim yang padanya kita tak hanya belajar ilmu tapi juga belajar adab dan akhlak. Lagi-lagi aku ingin mencerikatan kisah imam Ahmad. Majelisnya dihadiri oleh 5000 orang, 500 diantaranya begitu serius mencatat penjelasan beliau, lalu bagaimana dengan 4500 lainya? lupa membawa pena dan bukukah? tidak!!! tapi mereka sibuk memperhatikan adab dan akhlak dari guru yang sangat mereka cintai itu.
     Mereka belajar pada banyak guru dari satu negeri ke negeri lain, dari satu mesjid ke mesjid yang lain. Tidak pernah merasa cukup, serakah dengan ilmu syar'i telah membuat mereka amat mencintai perjalanan2 dalam menuntut ilmu. bahkan terkisah, suatu hari ibnu mubarak ditanya oleh seseorang, hendak kemanakah beliau. beliau berkata, "Saya ingin ke Bashrah". Lalu orang ini bertanya kembali, "wahai ibnu mubarak siapakah yang tersisa di basrah?". Pertanyaan tersebut tak semata meragukan keberadaan ulama-ulama di basrah, tapi mengandung makna bukankah ibnu mubarak ulama besar lantas untuk apa jauh-jauh pergi ke basrah untuk menuntut ilmu disana.
to be continue......

Read more...

Kamis, 18 Desember 2014

Euphoria Momentum


Manusia pada dasarnya menyukai momentum. Momentum itu baik pengulangan ataupun hal baru yang ditunggu-tunggu. Sehingga, bertebaranlah angka-angka merah di kalender tahunan kita, atau tanda-tanda di buku harian kita, pertanda kita seringkali mengingat, menunggu dan mengharapkan momentum itu datang.
Sekian banyak momentum itu, manakah yang benar-benar berkesan teman? Kesan yang tak sekedar hadir tiba-tiba lalu pergi secepat anak panah dilepas dari busurnnya. Inilah yang jadi sedikit bukti bahwa kita tak sedang serius menjadikan momentum itu pengumpul energi dan merajut makna. Jadilah kita orang-orang yang melalui banyak momen itu sebagai penghias dan pelengkap hidup. Maknawi yang kita dapat teramat nisbi. Menyukai selebrasi2 tanpa arti

Read more...

Rabu, 01 Januari 2014

Ribawi + Syari’ah VS Syari’ah

Para penyedia jasa keuangan konvensional tentu sedang berfikir bagaimana mereka tidak kehilangan nasabah yang sedang menunjukkan minat mereka terhadap sistem syari’ah. Ketidakadilan yang terkandung dalam sistem konvensional telah banyak dirasakan oleh masyarakat. Hal ini mengundang penyedia jasa keuangan konvensional selalu menawarkan dua pilihan, sistem biasa dan sistem syari’ah
Meski tidak pernah menyatakan persetujuan mutlak akan prinsip syariah, namun dengan ditawarkannya produk berbasis syariah secara tidak lansung menunjukkan kecacatan sistem konvensional yang dijalankan selama ini.

Read more...

Senin, 16 Desember 2013

Saat kita mendapat kesusahan,
tulislah semua itu di pasir.
Biarkan angin keikhlasan
membawanya jauh dari ingatan.
Biarkan catatan itu hilang
bersama menyebarnya pasir ketulusan.
Biarkan semua itu lenyap dan pupus.
Namun ingatlah saat kita mendapat kebahagian,
pahatlah kemulian itu di batu
agar tetap terkenang
dan membuat kita bahagia.
Torehkanlah kenangan kesenangan itu
di kerasnya batu
agar tak ada yang menghapusnya.
Biarkan catatan kebahagian itu tetap ada.
Biarkan semuanya tersimpan

(anonim)

Read more...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Yulmaini Al Manthani © 2008. Template by Dicas Blogger.

TOPO