Facebook RSS Feed
Dunia itu dilaknat, dan dilaknat apa yang ada padanya. kecuali dzikir kepada Allah, orang-orang yang berbuat baik, atau orang 'alim(berilmu) dan orang-orang yang menuntut ilmu. (Al-Hadits)
~Islamic Media~
Bersama Dakwah
The Deen Show
Republika
Info Palestina

Sobat berkunjung. insya allah sayapun berkunjung

Senin, 08 September 2008

Negara Ketoprak HumoR

Ini fenomena tersembunyi di bagian paling Timur kepulauan kita. Di negeri sarat dengan kesederhanaan, kalaulah kasar rasanya untuk dikatakan miskin. Sebab kehidupan mereka tak pernah punya komparisasi dari sebelumnya. Tetap begitu dari hari ke hari, tahun ke tahun. Maka akan lebih santun kiranya jika disebut sederhana. Konon, berdiri sebuah pemukiman megah di tengah hutan belantara yang di sekitarnya justru hidup penduduk sederhana tersebut. Di pemukiman itu, katanya lagi, bisa dianalogikan bagai syurga di tengah neraka. Pasalnya di sana ada supermarket megah, hotel, dan bangunan-bangunan yang hadirnya justru karena kekayaan penduduk sederhana itu. Entah kenapa aktivitas di dalam sana begitu berbeda dengan keseharian penduduk aslinya. Itu karena prestige pemerintah yang malah terkesan murahan dalam menggadaikan kekayaan rakyat. Tapi penduduk itu tidak bisa berbuat  banyak.
Lain lagi di bagian paling barat nusa kita ini. Gudang aktiva sumber daya alam ini mesti menelan pahitnya kehidupan akibat sentralisasi pembangunan. Ingin memisahkan diri dianggap pemberontak. Padahal negara saja yang tidak rela properti berharga itu tidak bisa lagi jadi aset terbesar yang memberi untung yang luar biasa. Sampai sekarang tetap negara tidak pernah mau melepas, berbeda halnya Timor-Timur yang dengan ‘ikhlas’ di’hibah’kan tanpa pertimbangan yang matang.
Itu cuma sekelumit polemik di sedikit bagian kepulauan negara kita. Di ujung  dan ujung negeri. Di pertengahannya tersebar masalah berbeda yang tak kalah tragis. Lebih kompleks. Lebih fluktuatif. Jika sempat terakumulasikan, rentetannya akan lebih panjang lagi. Dari Sabang sampai Merauke, dari Timur sampai ke Talaut. Satu hal akan menjadi puluhan masalah jika diihat dari parameter yang berbeda.
Narasi miris tak henti-hentinya terputus. Seakan ada mata rantai yang selalu tersambung dari generasi ke generasi. Kemestiannya adalah, ternyata kita perlu warna yang lebih cerah untuh memutus mata rantai yang tak layak kita sambung dalam kisah selanjutnya. Naratornya katakanlah seorang pemimpin. Pemimpin yang ketegasannya punya prinsip dan kebenaran yang tepat dalam bertindak dan mengayomi rakyatnya.
Lucunya, sejarah kita pernah menyisakan ruangnya untuk kehadiran pemimpin yang dari segi fisiknya saja tak memenuhi syarat untuk jadi pemimpin. Tapi kecuekan dan keluguan masyarakat akan nama besar seolah mengaburkan akal sehat untuk sekedar bisa memilih pemimpin yang punya kesehatan yang  menjamin. Yang bisa jadi nahkoda bagi pelayaran. Yang bisa jadi sopir bagi mobil. Atau masinis bagi kereta api. Atau sais bagi kereta kuda. Bukan jadi raja atau penguasa di negeri sendiri.
Begitulah. Kita terkatung-katung dituntun presiden yang buta. Bahkan presiden yang katanya kiyai itu pun doyan kejawen, ruwatan dan tradisi mistik lainnya. Nyeleneh. Benar atau tidak, entahlah. Selain itu hobi jalan-jalannya juga sering disorot media. Tapi bukan itu saja kiranya yang ganjil dari sejarah pemimpin kita. Yang jelas kelucuan demi kelucuan bermunculan di arena perpolitikan.
Ya wajar saja belum sampai di akhir masa jabatan beliau harus hengkang dari kursi kepresidenan. Setelahnya, kaum gender sedikit berbangga dengan majunya presiden wanita pertama di negeri ini. Tak ada yang salah dengan kehadiran pemimpin baru itu. Hanya saja kurang afdhol rasanya wanita dijadikan pemimpin rakyat. Walau bagaimanapun kaum Adam tetaplah paling tepat untuk dijadikan seorang imam dalam sebuah Negara.
Selama beberapa dekade merasakan pengalaman serupa, malah kita tak pernah bijak belajar dari kesalahan memberi kepercayaan. Jika saja dibahasakan negara ini sebuah khilafah Islamiyah, maka ia setingkat dengan khalifah walau dari segi keluasan teritori tetap saja belum ada apa-apanya. Sebut saja seorang khalifah terkenal dengan kedermawannya. Umar. Kedermawanan sifat dan kehati-hatian dalam memperlakukan rakyatnya terlihat jelas. Lantas dengan kacamata hati kita mencoba bandingkan sosok itu dengan para pemimpin kita. Terlalu kontras bukan?!
Negara kita aneh dan lucu. Seperti parodi humor yang diperankan para pemain ketoprak. Pembaca mungkin belum lupa parodi jenaka yang pernah ditayangkan di sebuah stasiun TV swasta beberapa tahun lalu. Negara kita memang penuh dengan kelucuan-kelucuan yang membuat kita tertawa merunut perjalanannya. Maka, kita sebut saja negara kita Negara “Ketoprak Humor”.
Negara Ketoprak Humor? Seperti apakah? Bulat seperti bola, mudah ditendang-tendang. Lucu seperti badut yang mudah bikin ketawa orang-orang. Aneh seperti berada di Negeri Alengka. Begitu canda penulis ketika seorang teman menanyakan.
Candaan ‘liar’ itu ada benarnya juga. Negara kita memang seperti bola. Pemainnya? Ya para penguasa. Oper sana-oper sini. Akhirnya….. Gooolllll. Masuk ke sarang harimau. Dicabik-cabik, dilumat, dan tidak berbentuk lagi. Pasrah tanpa daya, tanpa kuasa.
Bisa juga seperti badut. Di luarnya penuh intrik untuk menciptakan kegembiraan bagi orang lain. Tapi di dalamnya siapa yang tau? Mungkin ia menangis miris menyaksikan perjuangan hidupnya sendiri.
Aneh seperti berada di negeri Alengka. Kompetisi yang makin membara antar penguasa. Rakyat jadi penontonnya saja. Tapi yang memutuskan toh juga rakyat. Lagi-lagi rakyat berada di posisi serba sulit dan tertekan.
Negara kita benar-benar menggelikan. Dunia internasional yang memandang kita tak lebih sebagai negara yang patutnya dikasihani. Tapi kalau dikontemplasikan bisa jadi bahan tertawaan. Namun tawa yang berderai atau bahkan sampai terpingkal-pingkal bisa berubah jadi lawatan duka. Nun entah di mana, kita mesti siap menangis tersedu-sedu jika menengok ke “pemukiman” duka.  Bukan lagi rumah duka. Sebab banyak rumah yang api di dapurnya telah mati selama berhari-hari. Penghuninya menjerit kelaparan, saling sahut menyahut, beradu mengaduh, dan berlomba berteriak. Yang anehnya, jeritan-jeritan itu seolah tak punya muara yang benar untuk didengarkan. Tak banyak yang melayat dan memberi simpati. Mungkin fragmen pedih itu sengaja harus ditutup rapat-rapat agar pemerintah kita tidak menanggung malu di kancah internasional.
Di saat itulah pemerintah kita mulai mengaungkan demokrasi. Yah bagaimana bisa berdemokrasi di tengah perut lapar dan keapatisan masyarakat. Tentu saja rakyat kurang ngeh. Kebanyakan dari pengkhianat negara pun berspekulasi juga untuk kebutuhan perut. Perbedaannya, penguasanya hanya mengandalkan nafsu dalam berbuat. Sedangkan rakyat cuma berharap untuk memenuhi kewajiban perutnya. Itulah mungkin yang menjadikan rakyat tetap kuekueh dengan sikap tidak pedulinya dengan demokrasi. Intinya, pergolakan demi pergolakan hanya punya satu motif. “Masalah perut”
Sampai disini, dialog-dialog lucu itu belum akan berakhir. Ia akan terus hadir membentang di persada negeri kita yang katanya kaya raya ini. Sedikit banyaknya pembaca akan menyadari, ternyata pantas saja negara ini dinamakan Negara Ketoprak Humor. Ada kejelasan genre pada negeri kita. Warna kemiskinan di tengah kekayaan. Bukankah ini lucu?
Namun tak layak rasanya cuma menyalahkan sepihak, walau sepintas pemimpin memang otak segalanya yang menyebabkan kesengsaraan berkepanjangan dan menoreh wajah bopeng di negeri ini. Tapi bukankah kita sendiri yang punya kuasa argumentatif untuk mencari celah dalam memulai rekonsruksi akal, iman, politik, dan social. Menyingkirkan para penjilat yang bisanya cuma membuat buram sejarah negerinya sendiri, lantas memunculkan orang-orang pintar yang tersuruk di laci-laci kekuasaan para pejabat. Mengganti intelektual yang berhati bejat dengan si pintar yang bersahabat dengan rakyat.
Kapan idealita itu akan berjodoh dengan realitanya? Kita tunggu saja narasi lanjutannya. Yang jelas jangan lagi seperti ketoprak humor yang dipenuhi dengan manusia-manusia lugu dan lucu. Tapi berharaplah dalam waktu dekat bisa membaik dan terpandang di mata dunia dan terutama di mata-Nya tentunya.
Akhirnya, penulis mesti berterima kasih kepada seorang dosen yang di suatu siang mencoba mengajak kami (mahasiswa, pen) untuk me-charge paradigma diri sendiri tentang idealita dan realita yang ada di kancah politik praktis yang melahirkan karakter-karakter lucu di abad 21. Siang itu pula penulis mencoba menatap penuh arti pada kata-kata jenaka penuh inspirasi itu. Tapi kejenakaan ide sang dosen itu tak mengurangi kebijakan makna dibaliknya.
                                                                                                           
Padang, 8 September 2008

*Penulis adalah mahasiswa jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi. Universitas  Andalas.

Read more...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Yulmaini Al Manthani © 2008. Template by Dicas Blogger.

TOPO